MAKALAH MATA KULIAH
STUDI AL-QURAN
PENURUNAN WAHYU
Dosen :
Prof. Dr.
Moh. Ali Aziz, M.Ag
Ati’
Nursyafa’ah M.Kom.I
Disusun Oleh :
Putri Verina
NIM : B75219072
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN AMPEL SURABAYA
2019
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya
sehingga saya dapat menyelesaikan makalah dengan judul “PENURUNAN WAHYU” dengan
sebaik baiknya.
Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Dosen
Pengampu Mata Kuliah Studi Al-Qur’an Prof. Dr. Moh Ali Aziz
2. Asisten
Dosen Mata Kuliah Studi Al-Qur’an Ati’ Nursyafa’ah M.Kom.I
3. Teman
Sekelas yang telah memberikan saran dan bantuan lainnya
4. Serta
peran lainnya
Saya menyadari masih banyaknya kekurangan dalam penyusunan makalah ini, oleh
karena itu saya mengharapkan kritik dan
saran. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.
Sidoarjo, Agustus 2019
Putri Verina
DAFTAR ISI
Kata Pengantar................................................ 2
Daftar Isi......................................................... 3
BAB I : Pengertian Wahyu............................. 4
BAB II : Kepastian Adanya Wahyu............. 10
BAB III : Cara-cara Turunnya Wahyu
Kepada Malaikat dan Nabi........................... 13
BAB IV : Kesimpulan................................... 21
Daftar Pustaka............................................... 22
Daftar Pustaka............................................... 22
BAB I
PENGERTIAN WAHYU
Pada
bab satu ini, saya akan menjelaskan pengertian dari wahyu. Saya mengambil dari
beberapa refrensi yang saya dapat tentang pengertian wahyu, berikut macam-macam
pengertian wahyu.
Pengertian wahyu secara etimologi berarti petunjuk yang diberikan dengan
cepat. Arti cepat adalah datang secara langsung
ke dalam jiwa tanpa didahului jalan pikiran dan tidak bisa diketahui oleh
seorang pun.[1]
Atau ada pula pengertian lain. Al-Wahyu atau wahyu adalah
kata yang berbentuk masdar (infinitif). Ia menunjukkan dua pengertian
dasar, yaitu: tersembunyi dan cepat. Dalam kamus Lisan al-’Arab yang
dikutip oleh Nasr Hamid Abu Zaiyd disebutkan bahwa asal makna wahyu
menurut bahasa adalah pemberian informasi secara rahasia. Disamping itu, kata wahyu
juga dimaksudkan dengan al-muha (isim maf’ul) berarti yang diwahyukan.
Lalu pengertian wahyu secara istilah dapat bermakna komunikasi pesan Ilahi
(kalam Allah) kepada para Nabi termasuk Nabi Muhammad SAW, ia kadang berupa
perintah, atau berupa doktrin yang disampaikan secara cepat dan rahasia baik
secara langsung ataupun melalui perantara.
Muhammad
Abduh memberikan definisi wahyu sebagai “pengetahuan yang didapat seseorang
dari dalam dirinya dengan disertai keyakinan bahwa pengetahuan tersebut datang
dari Allah, baik melalui perantara ataupun tidak.”.[2]
Sedangkan menurut Imam Al-Zuhri pernah ditanya tentang wahyu, kemudian ia
menjawab: “Wahyu ialah kalam Allah yang disampaikan kepada salah seorang
Nabi-Nya kemudian dikukuhkan-Nya ke dalam hatinya; lalu dia menyatakan bahwa
itu adalah wahyu dan ditulisnya”.
Disamping itu ada wahyu yang tidak dinyatakan bahwa itu adalah wahyu, juga
tidak ditulisnya kepada seseorang atau diperintahkan menulisnya, tetapi ia
berbicara dengan wahyu tersebut kepada orang dan dijelaskannya bahwa Allah
memerintahkannya agar menjelaskannya kepada orang dan menyampaikannya kepada
mereka.[3]
Wahyu secara kebahasaan, wahyu memiliki arti yang berbeda-beda. Diantaranya
adalah: isyarat, tulisan, risalah, pesan, perkataan yang terselubung,
pemberitahuan secara rahasia, bergegas, setiap perkataan atau tulisan atau
pesan atau isyarat yang disampaikan kepada orang lain.
Kata wahyu dalam Al-Quran memiliki empat arti:
1. Isyarat secara rahasia. Ini adalah pemaknaan wahyu secara kebahasaan.
Sebagaimana ayat yang dimaktubkan dalam Al-Quran berkenaan dengan Nabi Zakariya
a.s, Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat
kepada mereka, “Hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang.” (QS.
Maryam : 11)
2. Petunjuk naluriah, yaitu petunjuk-petunjuk yang bersifat naluriah yang ada
di dalam diri semua makhluk. Petunjuk yang bersifat naluriah ini disebutkan
dalam Alquran dengan nama wahyu. Dan tuhanmu mewahyukan kepada lebah, “Buatlah
sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibuat
manusia. Kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan
Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu).” (QS. An-Nahl : 68)
3. Ilham (bisikan). Kadangkala manusia
menerima pesan, tetapi tidak mengetahui dari mana asal pesan tersebut. Biasanya
pesan ini muncul dalam kondisi terdesak, ketika dia menganggap telah menapaki
jalan buntu. Tiba-tiba, muncul pancaran dari dalam hati yang mengetahui adanya
jalan terang dan memberi harapan untuk terbebas dari kesulitan. Suara ghaib
dari inayah Ilahiah ini disebut oleh Alquran dengan nama wahyu.
4. Wahyu risali. Wahyu ini hanya khusus untuk Nabi. Didalam Alquran, wahyu
risali disebut lebih dari tujuh puluh kali: demikianlah Kami wahyukan
kepadamu alquran dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada
penduduk Mekkah dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya (QS. Asy-Syura :
7)
Menurut
Al-Quran, wahyu risali ada tiga macam :
a. Wahyu
secara langsung. Wahyu yang disampaikan kedalam hati Rasulullah SAW secara
langsung tanpa perantara.
b. Wahyu
berbentuk suara. Wahyu yang langsung sampai ke pendengaran Rasulullah SAW tanpa
ada seorang pun yang bisa mendengarnya. Fenomena ini sama seperti orang yang
berbicara dibalik tirai. Al-Quran mengungkapkannya dengan istilah dari belakang
tabir.
c. Wahyu
melalui perantara Malaikat Jibril. Malaikat penyampai wahyu membawa pesan Ilahi
untuk dikabarkan kepada Rasulullah SAW.[4]
Atau adapun pendapat lain tentang arti wahyu dalam Al-Quran di buku yang
berbeda yaitu :
a. Isyarat
b. Bisikan
c. I’lam´ - memberi insting
d. Ilham [5]
Adapun pendapat lain yang berasal dari buku yang berbeda yaitu :
a. Insting yang diberikan kepada manusia
b. Insting yang diberikan kepada binatang
c. Isyarat yang disampaikan dengan cepat
d. Pemberitahuan Allah kepada para malaikat
e. Bisikan setan
f. Perkataan Allah kepada manusia[6]
Adapun
pengertian wahyu lainnya bahwa wahyu menurut bahasa berarti
sesuatu perkataan yang tersembunyi dari orang lain, tulisan aau yang tertulis,
perutusan, ilham, perintah, tanda isyarat. [7]
Lalu pengertian dari buku lainnya menjelaskan pengertian wahyu menurut
bahasa adalah memberitahu sesuatu dengan cara yang samar dan cepat. Sedangkan
menurut pengertian dari agama, wahyu adalah pemberitahuan dari Allah kepada
para Nabi-Nya tentang hukum-hukum Allah, berita-berita dan cerita-cerita dengan
cara yang samar tetapi tetap meyakinkan kepada Nabi/Rasul bahwa yang
diterimanya berasal dari Allah.[8]
Menurut Az-Zarqani wahyu adalah pemberitahuan dari Allah kepada hamba
pilihannya tentang segala macam hidayah dan ilmu yang ingin disampaikan dengan
tersembunyi dan tidak terjadi pada manusia biasa. Definisi ini menggambarkan
wahyu sebagai cara Allah menyampaikan hidayah dan ilmu kepada para Nabi-Nya
secara langsung dengan membisikkan ke dalam qalbu mereka.[9]
BAB
II
KEPASTIAN
ADANYA WAHYU
Sekarang
orang dapat mendengar percakapan yang direkam dan dibawa oleh gelombang eter,
menyeberangi lembah dan dataran tinggi, daratan dan lautan tanpa melihat si
pembicara, bahkan sesudah mereka wafat sekalipun. Kini dua orang dapat
berbicara melalui telepon, sekalipun orang yang berada di ujung timur dan yang
lain di ujung barat, dan terkadang pula keduanya saling melihat dalam
percakapan itu, sementara orang-orang yang duduk disekitarnya tidak mendengar
apa-apa selain dengingan yang seperti suara lebah, persis seperti dengingan di
waktu turun wahyu.
Umat manusia pun menyaksikan pengaruhnya
didalam kebudayaan bangsanya serta dalam kemampuan pengikutnya. Manusia akan
menjadi mulia selama tetap berpegang pada keyakinan itu, dan akan hancur serta
hina bila mengabaikannya. Kemungkinan terjadinya wahyu serta kepastiannya sudah
tak dapat diragukan lagi, serta perlunya manusia kembali kepada petunjuk wahyu
demi menyiram jiwa yang haus akan nilai-nilai luhur dan kesegaran rohani.
Rasul kita Muhammad SAW bukanlah Rasul
pertama yang diberi wahyu. Allah telah memberikan juga wahyu kepada rasul-rasul
sebelum itu seperti yang diwahyukan kepadanya dalam Q.S.
An-Nisa [4] : 163-164
“Sesungguhnya Kami telah menyampaikan
wahyu kepadamu seperti Kami telah menyampaikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi
yang kemudiannya, dan Kami telah menyampaikan wahyu pula kepada Ibrahim,
Ismail, Ishak, Ya’kub, dan anak cucunya, Isa, Ayub, Yunus, Harun, dan Sulaiman.
Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. Dan Kami telah mengutus rasul-rasul yang
sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara
kepada Musa dengan langsung.” (Q.S.
An-Nisa [4] : 163-164)
Dengan demikian, maka wahyu yang
diturunkan kepada Muhammad SAW itu bukanlah suatu hal yang menimbulkan rasa
heran. Oleh sebab itu Allah mengingkari rasa heran ini bagi orang-orang yang
berakal.[10]
“Patutkah
menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki
diantara mereka : ‘Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah
orang-orang yang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan tinggi di sisi Tuhan
mereka’ Orang-orang kafir berkata : ‘Sesungguhnya orang ini (Muhammad) adalah
benar-benar tukang sihir yang nyata’”. (Q.S.
Yunus [10] : 2)
BAB
III
CARA-CARA
TURUNNYA WAHYU KEPADA MALAIKAT DAN RASUL
1.1 Cara Wahyu Allah Turun kepada Malaikat
Di
dalam Al-Qur’anul Karim terdapat nas mengenai kalam Allah kepada para
Malaikat-Nya terdapat dalam Q.S. Al-Baqarah [2]
: 30
“Ingatlah
ketika Tuhanmu berfirman: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khafilah
di muka bumi’. Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan khafilah di
bumi itu orang yang akan membuat kerusakan di dalamnya..?’”
Juga terdapat nas tentang wahyu Allah
kepada mereka yang terdapat dalam Q.S.
Al-Anfal [8] : 12
Nas-nas diatas dengan tegas menunjukkan
bahwa Allah berbicara kepada para malaikat tanpa perantara dan dengan
pembicaraan yang dipahami oleh para malaikat itu. Hal itu diperkuat oleh hadis
(hadis tabarani) dari Nawas bin Sam’an ra yang mengatakan : Rasulullah SAW
berkata :
“Apabila
Allah hendak memberikan wahyu mengenai suatu urusan, Dia berbicara melalui
wahyu, maka langit pun tergetarlah dengan getaran – atau dia mengatakan dengan
goncangan – yang dahsyat karena takut kepada Allah ‘azza wa jalla. Apabila
penghuni langit mendengar hal itu, maka pingsan dan jatuh bersujudlah mereka
itu kepada Allah. Yang pertama sekali mengangkat muka diantara mereka itu
adalah Jibril, maka allah membicarakan wahyu itu kepada Jibril menurut apa yang
dikehendaki-Nya. Kemudian Jibril berjalan melintasi para malaikat. Setiap kali
dia melalui satu langit, maka bertanyalah kepadanya malaikat itu: Apakah yang
telah dikatakan oleh Tuhan kita wahai Jibril? Jibril menjawab: Dia mengatakan
yang hak dan Dialah yang Mahatinggi lagi Mahabesar. Para malaikat itu semuanya
pun mengatakan seperti apa yang dikatakan Jibril. Lalu Jibril menyampaikan
wahyu itu seperti diperintahkan Allah ‘azza wa jalla”
Hadis ini menjelaskan bagaimana wahyu
turun. Pertama Allah berbicara, dan para malaikat mendengarnya. Dan pengaruh
wahyu itu pun sangat dahsyat. Apabila pada lahirnyya – di dalam perjalanan
Jibril untuk menyampaikan wahyu – hadis diatas menunjukkan turunnya wahyu
khusus mengenai Qur’an, akan tetapi hadis tersebut juga menjelaskan cara
turunnya wahyu secara umum. Pokok persoalan itu terdapat dalam hadis sahih :
“Apabila Allah memutuskan suatu perkara di
langit, maka para malaikat memukul-mukulkan sayapnya karena terpengaruh oleh
firman-Nya, bagaikan mata rantai diatas batu yang licin”.[11]
Oleh sebab itu para ulama berpendapat
mengenai cara turunnya wahyu Allah yang berupa Qur’an kepada Jibril dengan
beberapa pendapat :
a. Bahwa
Jibril menerimanya secara pendengaran dari Allah dengan lafalnya yang khusus
b. Bahwa
Jibril menghafalnya dari lauhul mahfuz
c. Bahwa
maknanya disampaikan oleh Allah kepada Jibril, sedang lafalnya adalah
lafal Jibril, atau lafal Muhammad SAW
Pendapat pertama itulah yang benar; dan
pendapat itu yang dijadikan pegangan oleh Ahlus Sunnah wal Jamaah, serta
diperkuat oleh hadis Nawas bin Sam’an diatas.[12]
1.2 Cara Wahyu Allah Turun kepada Para Rasul
Allah memberikan wahyu kepada para
rasul-Nya ada yang melalui perantaraan dan ada yang tidak melalui perantaraan.
Yang pertama: melalui malaikat Jibril, malaikat pembawa wahyu. Yang kedua:
tanpa melalui perantaraan, diantaranya ialah melalui mimpi yang benar dalam
tidur.
A. Mimpi
yang benar dalam tidur
Dari Aisyah r.a, dia berkata: Sesungguhnya
apa yang mula-mula terjadi bagi Rasulullah SAW adalah mimpi yang benar di waktu
tidur. Beliau tidaklah melihat mimpi kecuali mimpi itu datang bagaikan
terangnya pagi hari.
Hal itu merupakan persiapan bagi
Rasulullah untuk menerima wahyu dalam keadaan sadar, tidak tidur. Didalam
Qur’an wahyu diturunkan ketika beliau dalam keadaan sadar, kecuali bagi orang
yang mendakwakan bahwa surah Al-Kausar diturunkan melalui mimpi, karena adanya satu
hadis mengenai hal itu. Didalam sahih muslim, dari Anas r.a dia berkata :
“Ketika
Rasulullah SAW pada suatu hari berada diantara kami didalam masjid, tiba-tiba
ia mendengkur, lalu mengangkat kepala beliau dalam keadaan tersenyum. Aku
tanyakan kepadanya: ‘Apakah yang menyebabkan engkau tertawa wahai Rasulullah?’
Ia menjawab: ‘Tadi telah turun kepadaku sebuah surat (Al-Kausar)’.
Mungkin keadaan mendengkur ini adalah
keadaan yang dialaminya ketika wahyu turun. Diantara alas an yang menunjukkan
bahwa mimpi yang benar bagi para nabi adalah wahyu yang wajib diikuti, ialah
mimpi nabi Ibrahim agar menyembelih anaknya sendiri yaitu Nabi Ismail.
Mimpi yang benar itu tidaklah khusus bagi
para rasul saja. Mimpi yang demikian itu tetap ada pada kaum Mukminin, sekalipun
mimpi itu bukan wahyu, hal itu seperti dikatakan oleh Rasulullah SAW :
“Wahyu
telah terputus, tetapi berita-berita gembira tetap ada, yaitu mimpi orang
mukmin.”
B. Tanpa
Melalui Perantara
Yang demikian itu terjadi pada Nabi Musa
a.s yang terdapat dalam Q.S. Al-Araf [7] :
143 dan An-Nisa [4] :
164
“Dan Allah telah berbicara kepada Musa
secara langsung”. (Q.S. An-Nisa [4] : 164)
Demikian pula menurut pendapat yang paling
sah, Allah pun telah berbicara secara langsung kepada Rasul kita Muhammad SAW
pada malam Isra dan Mi’raj.[13]
C. Penyampaian
wahyu dengan perantaraan Malaikat Jibril
Penyampaian wahyu dengan perantaraan
malaikat Jibril a.s. yang didalam Al-quran disebut “Al-Ruhul Amin”. Ini ada dua
macam:
a. Nabi
dapat melihat kehadiran Malaikat Jibril a.s. dan dalam hal ini ada dua macam
pula yakni :
Pertama
: Malaikat Jibril a.s. dilihat dalam bentuknya yang asli, tetapi ini jarang
sekali terjadi.
Kedua
: Malaikat Jibril a.s. menjelma sebagai manusia. Dia juga pernah menjelma
sebagai seorang laki-laki bernama Duhyah bin Khalifah
b. Nabi
tidak melihat Malaikat Jibril ketika menerima wahyu, tetapi beliau mendengar
pada waktu kedatangan Malaikat itu suaranya seperti suara lebah atau
gemerincing bel. Dalam hal ini hanya Tuhanlah yang mengetahui hakikatnya. Bagi
orang yang kebetulan menyaksikan, hanya melihat gejala-gejalanya misalnya badan
Nabi bertambah berat dan Nabi mengeluarkan keringat yang banyak, sekalipun
dalam cuaca yang sangat dingin. Didalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam
Bukhori, dari Aisyah diterangkan, bahwa penerimaan wahyu semacam cara terakhir
ini adalah yang terberat.[14]
Di buku lainnya menjelaskan
bagaimana cara turunnya wahyu kepada Nabi yaitu :
1. Mimpi
2. Dicampakkan ke dalam jiwanya (dihembuskan ke dalam jiwanya) perkataan yang
dimaksudkan.
3. Datang kepada Nabi wahyu sebagai gerincingan lonceng, yakni Nabi mendengar
suara yang sangat kerasnya menyerupai gerincingan lonceng yang keras.
4. Malaikat merupakan dirinya sebagai seorang lelaki.
5. Malaikat Jibril memperlihatkan dirinya kepada Nabi dalam rupanya yang asli,
yang mempunyai enam ratus sayap.
6. Allah membicarakan kepada Nabi dari belakang hijab, baik dalam keadaan Nabi
sadar seperti saat di malam isra’ mi’raj ataupun dalam keadaan tidur.
7. Israfil turun membawa beberapa kalimat dan wahyu, sebelum Malaikat Jibril
datang membawa wahyu Al-Quran.[15]
BAB IV
KESIMPULAN
Dari yang sudah dijelaskan
sebelumnya, pengertian wahyu sendiri adalah petunjuk yang berasal dari Allah
kepada para Nabi-Nya yang dikirim secara cepat dan rahasia. Penurunan wahyu
kepada para Nabi pun ada yang melalui perantara ada yang tidak melalui perantara
atau langsung dari Allah.
Kepastian turunnya wahyu pun
salah satunya adalah adanya Al-Quran hingga saat ini. Karna Al-Quran adalah
wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat
Jibril dan diturunkan secara berangsur-angsur. Kepastian lainnya adalah adanya
kitab terdahulu yaitu Taurat, Zabur, dan Injil.
Cara turunnya wahyu pun
bermacam-macam. Allah menurunkan wahyu kepada Malaikat seperti terjadi
goncangan sedangkan kepada Nabi ada tiga cara yaitu melalui mimpi yang benar,
tanpa perantara, dan melalui perantara Malaikat Jibril. Contoh saat Nabi
menerima wahyu tanpa perantara adalah saat Nabi Muhammad SAW melakukan isra’
mi’raj. Lalu contoh Allah menurutkan wahyu melalui perantara Malaikat Jibril
adalah disaat turunnya surat Al-Alaq dan surat lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Zainal. Seluk
Beluk Al-Quran. Jakarta :
RinekaCipta,
1992.
Anwar, Abu. Ulumul
Qur’an. Jakarta :
Amzah, 2002.
Ash Shiddieqy, M. Hasbi. Sejarah dan Pengantar Ilmu Al Qur-an/Tafsir. Jakarta :
Bulan Bintang, 1992.
Eldeeb, Ibrahim. Be a Living Qur’an. Jakarta :
Lentera
Hati, 2009.
Hamid, Shalahuddin. Study
Ulumul Quran. Jakarta :
Intimedia
CiptaNusantara, t.t.
Ma’rifat, Muhammad Hadi. Sejarah Al-Quran. Jakarta :
Al-Huda,
2007.
Marzuki, Kamaluddin. ‘Ulum
Al-Quran. Bandung : Remaja
Rosdakarya, 1992.
Qattan, Manna’ Khalil. Studi Ilmu-ilmu Qur’an. Bogor :
Pustaka
Litera AntarNusa, 2009.
Yusuf, Kadar M. Studi
Alquran. Jakarta :
Amzah, 2014.
Zuhdi, Ahmad. Dkk. Studi
Al-Qur’an. Surabaya :
UIN SA
Press, 2011.
Zuhdi, Masjfuk. Pengantar
Ulumul Qur’an. Surabaya :
Karya
Abditama, 1997.
[2] Achmad Zuhdi, Suqiyah
Musafa’ah, Abd. Kholid, Abid Rohman, Mufikhatul Khoiroh, Studi Al-Qur’an, Surabaya, UIN SA Press, 2011, Cetakan ke 4
[5] Kamaluddin Marzuki, ‘Ulum Al-Quran, Bandung, PT Remaja
Rosdakarya, 1992, Cetakan ke 1, Hlm 10-11
[10] Manna’ Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, Bogor, PT.
Pustaka Litera AntarNusa, 2009, Cetakan ke 13, Hlm 34-35
[11] Manna’ Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, Bogor, PT.
Pustaka Litera AntarNusa, 2009, Cetakan ke 13, Hlm 38-40
[13] Manna’ Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, Bogor, PT.
Pustaka Litera AntarNusa, 2009, Cetakan ke 13, Hlm 44-47
[15] M. Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al Qur-an/Tafsir, Jakarta, PT Bulan
Bintang, 1992, Cetakan ke 14, Hlm 19-20







Alhamdulillah semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi saya dan bagi semua orang aamiin
BalasHapusSangat bermanfaat dan menambah pengetahuan khususnya bagi kaum muslimin. Semoga dengan berbagi ilmu seperti ini akan menjadi amal jariyah bagi penulis, amiin yra.
BalasHapussubhanallah, terima kasih atas ilmu yang sudah diberikan semoga bermanfaat untuk kita semua, aamiin
BalasHapusMasyaallah semoga bermanfaat ya dek makalahnya. good job lakukan yang terbaik
BalasHapusMasyaAllah semoga ini bisa dipetik ilmunya dan bisa menyebar luass🙏🙏
BalasHapusAlhamdulilah, terima kasih atas adanya makalah ini , semoga bisa menambah wawasan bagi saya dan juga yang lain. Dan Insyaallah bermanfaat
BalasHapusmasyallah makalahnya sangat membantu , banyak pelajaran baru yg saya dapatkan , terima kasih.
BalasHapusSemoga pembaca dapat memahami apa yang telah disampaikan. Kalau boleh kasih saran, ada beberapa kata yang masih typo, alangkah baik jika diberi footnote, tulisan arab diketik sendiri agar lebih jelas bagi para pembaca. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Aminnn.
BalasHapusYak tul 👍
HapusKamu itu seperti kamera. Karena aku selalu tersenyum saat melihatmu:)
BalasHapusBagus. Saya jadi tahu lebih dalam tentang wahyu dan bagaimana cara-nya wahyu tersebut turun kepada Nabi. Terima kasih!!
BalasHapusMenambah wawasanku sekali kak, makasih kak, kakkkk makasih makasih kak
BalasHapusAlhamdulillah sangat bermanfaat
BalasHapusSangat bermanfaat bagi kaum muslimin dan muslimat agar dapat menambah wawasan.semoga pembaca dapat memahami apa yang disampaikan
BalasHapusalhamfulillah sangat bermanfaat bagi para pembaca karena menyuguhkan pembahasan mengenai penurunan wahyu
BalasHapusWow sangat bermanfaat sekali. Semoga dapat digunakan untuk ilmu pengetahuan bagi yg membaca
BalasHapusalhamdulillah dapet ilmu baru, semoga bermanfaat makalahnya kak^_^
BalasHapusTerima kasih, berkat blog ini tugas saya sangat terbantu. Semoga makalahnya berkah ya :)
BalasHapusMakalah ini sangat membantu saya dalam mengerjakan tugas tentang penurunan Wahyu, dan penjelasan nya sangat rinci, terimakasih.
BalasHapusAllhamdulillah allhamdulillah allhamdulillah allhamdulillah allhamdulillah allhamdulillah allhamdulillah allhamdulillah
BalasHapusJangan lupa bersyukur ya gaeesss. Assallamuallaikum
terima kasih, berkat makalah ini saya jadi tau bagaimana proses penurunan wahyu yang mana sebelumnya saya belum bisa membayangkan karena pada jaman dulu jaringan komunikasi bisa dikatakan sangat terbatas
BalasHapusWaah terinakasih buat blog ini... bermanfaat sekali, semoga yang menulis blog ini diberikan yang terbaik amin amin amin amin
BalasHapusAlhamdulillah, ada yang membuat artikel ini. terimakasih ilmunya sangat bermanfaat. kalau bisa buat bab yang lain juga ya?
BalasHapusTerima kasih telah membuat makalh ini sangat rapi dan berguna sekali bagi saya yg belum tahu lebih dalam
BalasHapusAlhamdulillah kak menambah wawasan yang belum saya ketahui, lain kali ajari kak ya??
BalasHapusAlhamdulillah, makalah ini sangat bermanfaat sekalii, banyak ilmu yang saya dapat disinii, semoga penulis selalu diberi kesehatan, aamiin
BalasHapusMasyaallah makalah yg sangat baik dan sangat membantu. Terimakasih kak
BalasHapusAlhamdulillah sangat bermanfaat sluuurr
BalasHapusterima kasih banyak yaa slurr, semoga bermanfaat untuk anda agar dapat berjalan di jalan yang benar
HapusAlhamdulillah, dengan adanya makalah ini banyak ilmu yang didapat, makalah ini sangat bermanfaat sekali, semoga penulis selalu diberi kesehatan, aamiin
BalasHapusalhamdulillah sangat bermanfaaat bagi sayaa terima kasih banyak semoga kedepannya makin baik aamiin
BalasHapusMasyaallah tabarokallah, semoga bermanfaat bagi pembaca dan bernilai ibadah bagi pebulis 🙏
BalasHapusalhamdulillah. saya dapat referensi terbaru mengenai wahyu, terimakasih. semoga dapat di amalkan.
BalasHapusAlhamdulillah, sangat bermanfaat sekali artikel ini, dan dapat menambah ilmu baruu, semoga kedepanya lebih baik lagi.
BalasHapusAlhamdulillah, sangat bermanfaat bagi pembacanya. Semoga dapat kedepannya menjadi lebih baik, aamiinn aamiinn.
BalasHapusAlhamdulillah, ilmu baru 😊 sangat bermanfaat.... Singkat padat jelas jadi nggak perlu terlalu lama utk baca dan mengerti isinya.
BalasHapusMasyaallah,ini membantu saya untuk menambah wawasan dan pengetahuan saya semoga bermanfaat dan barokah.
BalasHapusAlhamdulillah sangat membantu saya
BalasHapusAlhamdulillah isi blognya sangat bermanfaat karena sangat mudah dipahami dan membahas tentang penurunan wahyu.
BalasHapusAlhamdulillah mempermudah saya dalam mencari referensi tugas
BalasHapusalhamdulillah karena makalah ini saya mendapat ilmu baru terima kasih
BalasHapusAlhamdulillah, sangat bermanfaat sekali artikel ini terimakasih
BalasHapusMasyaAllah ..
BalasHapusSemoga apa yang kamu usahakan bermanfaat bagi yang lain
MasyaAllah ..
BalasHapusSemoga apa yang kamu usahakan bermanfaat bagi yang lain
Alhamdulillah, ilmu yang disampaikan bermanfaat untuk saya & pembaca dalam referensi tugas
BalasHapusAlhamdulillah sangat bermanfaat sekali ... Terima kasih ..
BalasHapusAssalamualaikum, sangat bermanfaat sekali artikel ini, ilmu yang disampaikan bermanfaat untuk saya & pembaca dalam referensi tugas
BalasHapusAlhamdulliloah bermanfaat sekali
BalasHapusMasyaallah bermanfaat sekali blognya, semoga bermanfaat bagi pembaca lain
BalasHapusAlhamdulillah semoga bermanfaat l
BalasHapusAlhamdulillah.. Sangat membantu dan menambah wawasan, semoga bermanfaat untuk pembaca lainnya dan sukses terus buat kakaknya :)
BalasHapusWah Alhamdulillah mantap ini mah. Terima kasih ilmunya
BalasHapusMakalah nya sangat membantu, sangat bermanfaat, semoga kedepannya semakin baik lagi
BalasHapusAlhamdulllah sangat bermanfaat dan sangat membantu dengan adanya makalah ini bisa menambah wawasan baru
BalasHapusMasyaallah, terimakasih kak telah berbagi ilmu. Semoga menjadi manfaat bagi sesama
BalasHapuswaduh ketemu ukhti disini, masyaAllah ukh ana juga senang baca diblog ini. Bermanfaat semuaa
Hapusterima kasih, semoga ilmu yang sudah di bagikan dapat bermanfaat untuk kita semua
BalasHapusTerima kasih atas ilmu yang kamu tulis sangat menambah wawasan islam
BalasHapusterimakasih , semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi kita semua, aminn
BalasHapusTerima kasih, menambah ilmu baru dan semoga bermanfaat ilmunya bagi yang lainnya juga
BalasHapusDijelasin gak sih disitu. Ketika Allah menurunkan Wahyu ke langit/lauhil Mahfudz (?) Itu berupa apa????
BalasHapusmaaf mbak, tapi itu bukan termasuk dari pembahasan soalnya sub bab nya cara cara turunnya wahyu kepada malaikat dan rasul, maaf jika saya salah
HapusMasyaAllah sangat bermanfaat sekali terimakasih
BalasHapusSemangatt dek
BalasHapusBERMANFAAATTT SEKALIII... SEMANGAAT YAAAA🥰
BalasHapusCukup lengkap, bagus buat nambah pengetahuan. Good job
BalasHapusجيد جدا ... نأمل أن تنتج أعمالا كتابية جيدة وصحيحة. انتظار الورقة التالية ...
BalasHapusSemoga Ilmunya bermanfaat bagi pembaca dan mengalirkan pahala bagi penulis :)
BalasHapusAlhamdulillah ilmunya semoga bermanfaat bagi yang lainnya untuk pembelajaran kita
BalasHapusآمل أن يكون المقال مفيدًا ، وآمل أن يكون أولئك الذين يقرأون قد حصلوا على المعرفة ، قد وصلوا إلى المقالة المثالية
BalasHapusterima kasih telah membuat blog yang sangat bermanfaat, semoga kedepannya akan lebih baik lagi
BalasHapusSangat bermanfaat bagi pembaca, ditunggu karya selanjutnya, sukses selalu kak
BalasHapusMasyaallah, Alhamdulillah makasih kak telah menuliskan artikel ini, aku jadi ngerti wahyunya Al Qur'an. Sehat selalu kak.
BalasHapusSangat membantu, terima kasih kak sudah menyebarkan ilmu yang bermanfaat seperti ini. sukses slalu
BalasHapusMasyaAllah bermanfaat sekali ukh untuk otak saya yang masih kosong ini, terimakasih ilmunyaa
BalasHapusAlhamdulillah sukak banget sama isi blognya, bermanfaat makasih ya kak, semoga kedepannya makin berkembang lagi dan bisa bermanfaat buat orang lain bagus isinya :)
BalasHapusMasyaallah, tulisan yang sangat bermanfaat. terimakasih sudah berbagi ilmunya, semoga terus membuat hal-hal yang bermanfaat bagi banyak orang
BalasHapuswahh sangat membantu sekali ...
BalasHapusSemoga ilmunya manfaat, dan membawa berkah bagi pembaca maupun penulis
BalasHapusTerima kasih ilmunya sangat membantu
BalasHapusBermanfaat sekali isi blog nya, semoga membawa berkah pembaca dan penulis.
BalasHapusterima kasih, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua
BalasHapus