Penurunan Wahyu


MAKALAH MATA KULIAH
STUDI AL-QURAN

PENURUNAN WAHYU




Dosen :
Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Ati’ Nursyafa’ah M.Kom.I


Disusun Oleh :
Putri Verina
NIM : B75219072


PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN AMPEL SURABAYA
2019


KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah dengan judul “PENURUNAN WAHYU” dengan sebaik baiknya.

Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1.      Dosen Pengampu Mata Kuliah Studi Al-Qur’an Prof. Dr. Moh Ali Aziz
2.      Asisten Dosen Mata Kuliah Studi Al-Qur’an Ati’ Nursyafa’ah M.Kom.I
3.      Teman Sekelas yang telah memberikan saran dan bantuan lainnya
4.      Serta peran lainnya

Saya menyadari masih banyaknya kekurangan dalam penyusunan makalah ini, oleh karena itu saya mengharapkan kritik dan saran. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.


Sidoarjo, Agustus 2019



Putri Verina




DAFTAR ISI

Kata Pengantar................................................ 2
Daftar Isi......................................................... 3
BAB I : Pengertian Wahyu............................. 4
BAB II : Kepastian Adanya Wahyu............. 10
BAB III : Cara-cara Turunnya Wahyu
Kepada Malaikat dan Nabi........................... 13
BAB IV : Kesimpulan................................... 21
Daftar Pustaka
............................................... 22


BAB I
PENGERTIAN WAHYU

Pada bab satu ini, saya akan menjelaskan pengertian dari wahyu. Saya mengambil dari beberapa refrensi yang saya dapat tentang pengertian wahyu, berikut macam-macam pengertian wahyu.

Pengertian wahyu secara etimologi berarti petunjuk yang diberikan dengan cepat. Arti cepat adalah datang secara langsung ke dalam jiwa tanpa didahului jalan pikiran dan tidak bisa diketahui oleh seorang pun.[1]

Atau ada pula pengertian lain. Al-Wahyu atau wahyu adalah kata yang berbentuk masdar (infinitif). Ia menunjukkan dua pengertian dasar, yaitu: tersembunyi dan cepat. Dalam kamus Lisan al-’Arab yang dikutip oleh Nasr Hamid Abu Zaiyd disebutkan bahwa asal makna wahyu menurut bahasa adalah pemberian informasi secara rahasia. Disamping itu, kata wahyu juga dimaksudkan dengan al-muha (isim maf’ul) berarti yang diwahyukan.

Lalu pengertian wahyu secara istilah dapat bermakna komunikasi pesan Ilahi (kalam Allah) kepada para Nabi termasuk Nabi Muhammad SAW, ia kadang berupa perintah, atau berupa doktrin yang disampaikan secara cepat dan rahasia baik secara langsung ataupun melalui perantara.
Muhammad Abduh memberikan definisi wahyu sebagai “pengetahuan yang didapat seseorang dari dalam dirinya dengan disertai keyakinan bahwa pengetahuan tersebut datang dari Allah, baik melalui perantara ataupun tidak.”.[2]

Sedangkan menurut Imam Al-Zuhri pernah ditanya tentang wahyu, kemudian ia menjawab: “Wahyu ialah kalam Allah yang disampaikan kepada salah seorang Nabi-Nya kemudian dikukuhkan-Nya ke dalam hatinya; lalu dia menyatakan bahwa itu adalah wahyu dan ditulisnya”.

Disamping itu ada wahyu yang tidak dinyatakan bahwa itu adalah wahyu, juga tidak ditulisnya kepada seseorang atau diperintahkan menulisnya, tetapi ia berbicara dengan wahyu tersebut kepada orang dan dijelaskannya bahwa Allah memerintahkannya agar menjelaskannya kepada orang dan menyampaikannya kepada mereka.[3]

Wahyu secara kebahasaan, wahyu memiliki arti yang berbeda-beda. Diantaranya adalah: isyarat, tulisan, risalah, pesan, perkataan yang terselubung, pemberitahuan secara rahasia, bergegas, setiap perkataan atau tulisan atau pesan atau isyarat yang disampaikan kepada orang lain.

Kata wahyu dalam Al-Quran memiliki empat arti:

1. Isyarat secara rahasia. Ini adalah pemaknaan wahyu secara kebahasaan. Sebagaimana ayat yang dimaktubkan dalam Al-Quran berkenaan dengan Nabi Zakariya a.s, Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka, “Hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang.” (QS. Maryam : 11)

2. Petunjuk naluriah, yaitu petunjuk-petunjuk yang bersifat naluriah yang ada di dalam diri semua makhluk. Petunjuk yang bersifat naluriah ini disebutkan dalam Alquran dengan nama wahyu. Dan tuhanmu mewahyukan kepada lebah, “Buatlah sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibuat manusia. Kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu).” (QS. An-Nahl : 68)

3. Ilham (bisikan). Kadangkala manusia menerima pesan, tetapi tidak mengetahui dari mana asal pesan tersebut. Biasanya pesan ini muncul dalam kondisi terdesak, ketika dia menganggap telah menapaki jalan buntu. Tiba-tiba, muncul pancaran dari dalam hati yang mengetahui adanya jalan terang dan memberi harapan untuk terbebas dari kesulitan. Suara ghaib dari inayah Ilahiah ini disebut oleh Alquran dengan nama wahyu.

4. Wahyu risali. Wahyu ini hanya khusus untuk Nabi. Didalam Alquran, wahyu risali disebut lebih dari tujuh puluh kali: demikianlah Kami wahyukan kepadamu alquran dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada penduduk Mekkah dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya (QS. Asy-Syura : 7)

Menurut Al-Quran, wahyu risali ada tiga macam :
a.       Wahyu secara langsung. Wahyu yang disampaikan kedalam hati Rasulullah SAW secara langsung tanpa perantara.
b.      Wahyu berbentuk suara. Wahyu yang langsung sampai ke pendengaran Rasulullah SAW tanpa ada seorang pun yang bisa mendengarnya. Fenomena ini sama seperti orang yang berbicara dibalik tirai. Al-Quran mengungkapkannya dengan istilah dari belakang tabir.
c.       Wahyu melalui perantara Malaikat Jibril. Malaikat penyampai wahyu membawa pesan Ilahi untuk dikabarkan kepada Rasulullah SAW.[4]

Atau adapun pendapat lain tentang arti wahyu dalam Al-Quran di buku yang berbeda yaitu :
a.       Isyarat
b.      Bisikan
c.       I’lam´ - memberi insting
d.      Ilham [5]

Adapun pendapat lain yang berasal dari buku yang berbeda yaitu :
a.       Insting yang diberikan kepada manusia
b.      Insting yang diberikan kepada binatang
c.       Isyarat yang disampaikan dengan cepat
d.      Pemberitahuan Allah kepada para malaikat
e.       Bisikan setan
f.       Perkataan Allah kepada manusia[6]

Adapun pengertian wahyu lainnya bahwa wahyu menurut bahasa berarti sesuatu perkataan yang tersembunyi dari orang lain, tulisan aau yang tertulis, perutusan, ilham, perintah, tanda isyarat. [7]

Lalu pengertian dari buku lainnya menjelaskan pengertian wahyu menurut bahasa adalah memberitahu sesuatu dengan cara yang samar dan cepat. Sedangkan menurut pengertian dari agama, wahyu adalah pemberitahuan dari Allah kepada para Nabi-Nya tentang hukum-hukum Allah, berita-berita dan cerita-cerita dengan cara yang samar tetapi tetap meyakinkan kepada Nabi/Rasul bahwa yang diterimanya berasal dari Allah.[8]

Menurut Az-Zarqani wahyu adalah pemberitahuan dari Allah kepada hamba pilihannya tentang segala macam hidayah dan ilmu yang ingin disampaikan dengan tersembunyi dan tidak terjadi pada manusia biasa. Definisi ini menggambarkan wahyu sebagai cara Allah menyampaikan hidayah dan ilmu kepada para Nabi-Nya secara langsung dengan membisikkan ke dalam qalbu mereka.[9]


BAB II
KEPASTIAN ADANYA WAHYU

Sekarang orang dapat mendengar percakapan yang direkam dan dibawa oleh gelombang eter, menyeberangi lembah dan dataran tinggi, daratan dan lautan tanpa melihat si pembicara, bahkan sesudah mereka wafat sekalipun. Kini dua orang dapat berbicara melalui telepon, sekalipun orang yang berada di ujung timur dan yang lain di ujung barat, dan terkadang pula keduanya saling melihat dalam percakapan itu, sementara orang-orang yang duduk disekitarnya tidak mendengar apa-apa selain dengingan yang seperti suara lebah, persis seperti dengingan di waktu turun wahyu.

        Umat manusia pun menyaksikan pengaruhnya didalam kebudayaan bangsanya serta dalam kemampuan pengikutnya. Manusia akan menjadi mulia selama tetap berpegang pada keyakinan itu, dan akan hancur serta hina bila mengabaikannya. Kemungkinan terjadinya wahyu serta kepastiannya sudah tak dapat diragukan lagi, serta perlunya manusia kembali kepada petunjuk wahyu demi menyiram jiwa yang haus akan nilai-nilai luhur dan kesegaran rohani.
       
        Rasul kita Muhammad SAW bukanlah Rasul pertama yang diberi wahyu. Allah telah memberikan juga wahyu kepada rasul-rasul sebelum itu seperti yang diwahyukan kepadanya dalam Q.S. An-Nisa [4] : 163-164





“Sesungguhnya Kami telah menyampaikan wahyu kepadamu seperti Kami telah menyampaikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah menyampaikan wahyu pula kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya’kub, dan anak cucunya, Isa, Ayub, Yunus, Harun, dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. Dan Kami telah mengutus rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.” (Q.S. An-Nisa [4] : 163-164)

      Dengan demikian, maka wahyu yang diturunkan kepada Muhammad SAW itu bukanlah suatu hal yang menimbulkan rasa heran. Oleh sebab itu Allah mengingkari rasa heran ini bagi orang-orang yang berakal.[10]



“Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki diantara mereka : ‘Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah orang-orang yang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan tinggi di sisi Tuhan mereka’ Orang-orang kafir berkata : ‘Sesungguhnya orang ini (Muhammad) adalah benar-benar tukang sihir yang nyata’”. (Q.S. Yunus [10] : 2)


BAB III
CARA-CARA TURUNNYA WAHYU KEPADA MALAIKAT DAN RASUL

1.1  Cara Wahyu Allah Turun kepada Malaikat

Di dalam Al-Qur’anul Karim terdapat nas mengenai kalam Allah kepada para Malaikat-Nya terdapat dalam Q.S. Al-Baqarah [2] : 30



“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khafilah di muka bumi’. Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan khafilah di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan di dalamnya..?’”

      Juga terdapat nas tentang wahyu Allah kepada mereka yang terdapat dalam Q.S. Al-Anfal [8] : 12



“Ingatlah ketika Tuhanmu mewahyukan kepada malaikat : ‘ Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah pendirian orang-orang yang beriman.’” (Q.S. Al-Anfal [8] :12)

      Nas-nas diatas dengan tegas menunjukkan bahwa Allah berbicara kepada para malaikat tanpa perantara dan dengan pembicaraan yang dipahami oleh para malaikat itu. Hal itu diperkuat oleh hadis (hadis tabarani) dari Nawas bin Sam’an ra yang mengatakan : Rasulullah SAW berkata :

      Apabila Allah hendak memberikan wahyu mengenai suatu urusan, Dia berbicara melalui wahyu, maka langit pun tergetarlah dengan getaran – atau dia mengatakan dengan goncangan – yang dahsyat karena takut kepada Allah ‘azza wa jalla. Apabila penghuni langit mendengar hal itu, maka pingsan dan jatuh bersujudlah mereka itu kepada Allah. Yang pertama sekali mengangkat muka diantara mereka itu adalah Jibril, maka allah membicarakan wahyu itu kepada Jibril menurut apa yang dikehendaki-Nya. Kemudian Jibril berjalan melintasi para malaikat. Setiap kali dia melalui satu langit, maka bertanyalah kepadanya malaikat itu: Apakah yang telah dikatakan oleh Tuhan kita wahai Jibril? Jibril menjawab: Dia mengatakan yang hak dan Dialah yang Mahatinggi lagi Mahabesar. Para malaikat itu semuanya pun mengatakan seperti apa yang dikatakan Jibril. Lalu Jibril menyampaikan wahyu itu seperti diperintahkan Allah ‘azza wa jalla

      Hadis ini menjelaskan bagaimana wahyu turun. Pertama Allah berbicara, dan para malaikat mendengarnya. Dan pengaruh wahyu itu pun sangat dahsyat. Apabila pada lahirnyya – di dalam perjalanan Jibril untuk menyampaikan wahyu – hadis diatas menunjukkan turunnya wahyu khusus mengenai Qur’an, akan tetapi hadis tersebut juga menjelaskan cara turunnya wahyu secara umum. Pokok persoalan itu terdapat dalam hadis sahih :

      “Apabila Allah memutuskan suatu perkara di langit, maka para malaikat memukul-mukulkan sayapnya karena terpengaruh oleh firman-Nya, bagaikan mata rantai diatas batu yang licin”.[11]

      Oleh sebab itu para ulama berpendapat mengenai cara turunnya wahyu Allah yang berupa Qur’an kepada Jibril dengan beberapa pendapat :

a.       Bahwa Jibril menerimanya secara pendengaran dari Allah dengan lafalnya yang khusus
b.      Bahwa Jibril menghafalnya dari lauhul mahfuz
c.       Bahwa maknanya disampaikan oleh Allah kepada Jibril, sedang lafalnya adalah lafal Jibril, atau lafal Muhammad SAW

      Pendapat pertama itulah yang benar; dan pendapat itu yang dijadikan pegangan oleh Ahlus Sunnah wal Jamaah, serta diperkuat oleh hadis Nawas bin Sam’an diatas.[12]

1.2  Cara Wahyu Allah Turun kepada Para Rasul

      Allah memberikan wahyu kepada para rasul-Nya ada yang melalui perantaraan dan ada yang tidak melalui perantaraan. Yang pertama: melalui malaikat Jibril, malaikat pembawa wahyu. Yang kedua: tanpa melalui perantaraan, diantaranya ialah melalui mimpi yang benar dalam tidur.

A.    Mimpi yang benar dalam tidur

      Dari Aisyah r.a, dia berkata: Sesungguhnya apa yang mula-mula terjadi bagi Rasulullah SAW adalah mimpi yang benar di waktu tidur. Beliau tidaklah melihat mimpi kecuali mimpi itu datang bagaikan terangnya pagi hari.

      Hal itu merupakan persiapan bagi Rasulullah untuk menerima wahyu dalam keadaan sadar, tidak tidur. Didalam Qur’an wahyu diturunkan ketika beliau dalam keadaan sadar, kecuali bagi orang yang mendakwakan bahwa surah Al-Kausar diturunkan melalui mimpi, karena adanya satu hadis mengenai hal itu. Didalam sahih muslim, dari Anas r.a dia berkata :

“Ketika Rasulullah SAW pada suatu hari berada diantara kami didalam masjid, tiba-tiba ia mendengkur, lalu mengangkat kepala beliau dalam keadaan tersenyum. Aku tanyakan kepadanya: ‘Apakah yang menyebabkan engkau tertawa wahai Rasulullah?’ Ia menjawab: ‘Tadi telah turun kepadaku sebuah surat (Al-Kausar)’.

      Mungkin keadaan mendengkur ini adalah keadaan yang dialaminya ketika wahyu turun. Diantara alas an yang menunjukkan bahwa mimpi yang benar bagi para nabi adalah wahyu yang wajib diikuti, ialah mimpi nabi Ibrahim agar menyembelih anaknya sendiri yaitu Nabi Ismail.
     
      Mimpi yang benar itu tidaklah khusus bagi para rasul saja. Mimpi yang demikian itu tetap ada pada kaum Mukminin, sekalipun mimpi itu bukan wahyu, hal itu seperti dikatakan oleh Rasulullah SAW :
“Wahyu telah terputus, tetapi berita-berita gembira tetap ada, yaitu mimpi orang mukmin.”

B.     Tanpa Melalui Perantara

      Yang demikian itu terjadi pada Nabi Musa a.s yang terdapat dalam Q.S. Al-Araf [7] : 143  dan An-Nisa [4] : 164




“Dan tatkala Musa datang untuk munajat dengan Kami di waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman langsung kepadanya, Musa berkata: ‘Wahai Tuhan, tampakkanlah diri-Mu kepadaku agar aku dapat melihat Engkau;”. (Q.S. Al-Araf [7] : 143)



“Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung”. (Q.S. An-Nisa [4] : 164)

      Demikian pula menurut pendapat yang paling sah, Allah pun telah berbicara secara langsung kepada Rasul kita Muhammad SAW pada malam Isra dan Mi’raj.[13]

C.     Penyampaian wahyu dengan perantaraan Malaikat Jibril

      Penyampaian wahyu dengan perantaraan malaikat Jibril a.s. yang didalam Al-quran disebut “Al-Ruhul Amin”. Ini ada dua macam:

a.       Nabi dapat melihat kehadiran Malaikat Jibril a.s. dan dalam hal ini ada dua macam pula yakni :
Pertama : Malaikat Jibril a.s. dilihat dalam bentuknya yang asli, tetapi ini jarang sekali terjadi.
Kedua : Malaikat Jibril a.s. menjelma sebagai manusia. Dia juga pernah menjelma sebagai seorang laki-laki bernama Duhyah bin Khalifah

b.      Nabi tidak melihat Malaikat Jibril ketika menerima wahyu, tetapi beliau mendengar pada waktu kedatangan Malaikat itu suaranya seperti suara lebah atau gemerincing bel. Dalam hal ini hanya Tuhanlah yang mengetahui hakikatnya. Bagi orang yang kebetulan menyaksikan, hanya melihat gejala-gejalanya misalnya badan Nabi bertambah berat dan Nabi mengeluarkan keringat yang banyak, sekalipun dalam cuaca yang sangat dingin. Didalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, dari Aisyah diterangkan, bahwa penerimaan wahyu semacam cara terakhir ini adalah yang terberat.[14]

      Di buku lainnya menjelaskan bagaimana cara turunnya wahyu kepada Nabi yaitu :

1.      Mimpi
2.      Dicampakkan ke dalam jiwanya (dihembuskan ke dalam jiwanya) perkataan yang dimaksudkan.
3.      Datang kepada Nabi wahyu sebagai gerincingan lonceng, yakni Nabi mendengar suara yang sangat kerasnya menyerupai gerincingan lonceng yang keras.
4.      Malaikat merupakan dirinya sebagai seorang lelaki.
5.      Malaikat Jibril memperlihatkan dirinya kepada Nabi dalam rupanya yang asli, yang mempunyai enam ratus sayap.
6.      Allah membicarakan kepada Nabi dari belakang hijab, baik dalam keadaan Nabi sadar seperti saat di malam isra’ mi’raj ataupun dalam keadaan tidur.
7.      Israfil turun membawa beberapa kalimat dan wahyu, sebelum Malaikat Jibril datang membawa wahyu Al-Quran.[15]




BAB IV
KESIMPULAN

      Dari yang sudah dijelaskan sebelumnya, pengertian wahyu sendiri adalah petunjuk yang berasal dari Allah kepada para Nabi-Nya yang dikirim secara cepat dan rahasia. Penurunan wahyu kepada para Nabi pun ada yang melalui perantara ada yang tidak melalui perantara atau langsung dari Allah.

      Kepastian turunnya wahyu pun salah satunya adalah adanya Al-Quran hingga saat ini. Karna Al-Quran adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril dan diturunkan secara berangsur-angsur. Kepastian lainnya adalah adanya kitab terdahulu yaitu Taurat, Zabur, dan Injil.

      Cara turunnya wahyu pun bermacam-macam. Allah menurunkan wahyu kepada Malaikat seperti terjadi goncangan sedangkan kepada Nabi ada tiga cara yaitu melalui mimpi yang benar, tanpa perantara, dan melalui perantara Malaikat Jibril. Contoh saat Nabi menerima wahyu tanpa perantara adalah saat Nabi Muhammad SAW melakukan isra’ mi’raj. Lalu contoh Allah menurutkan wahyu melalui perantara Malaikat Jibril adalah disaat turunnya surat Al-Alaq dan surat lainnya.



DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Zainal. Seluk Beluk Al-Quran. Jakarta :
            RinekaCipta, 1992.
Anwar, Abu. Ulumul Qur’an. Jakarta :
Amzah, 2002.
Ash Shiddieqy, M. Hasbi. Sejarah dan Pengantar Ilmu Al Qur-an/Tafsir. Jakarta :
Bulan Bintang, 1992.
Eldeeb, Ibrahim. Be a Living Qur’an. Jakarta :
Lentera Hati, 2009.
Hamid, Shalahuddin. Study Ulumul Quran. Jakarta :
            Intimedia CiptaNusantara, t.t.
Ma’rifat, Muhammad Hadi. Sejarah Al-Quran. Jakarta :
            Al-Huda, 2007.
Marzuki, Kamaluddin. ‘Ulum Al-Quran. Bandung : Remaja Rosdakarya, 1992.
Qattan, Manna’ Khalil. Studi Ilmu-ilmu Qur’an. Bogor :
            Pustaka Litera AntarNusa, 2009.
Yusuf, Kadar M. Studi Alquran. Jakarta :
Amzah, 2014.
Zuhdi, Ahmad. Dkk. Studi Al-Qur’an. Surabaya :
            UIN SA Press, 2011.
Zuhdi, Masjfuk. Pengantar Ulumul Qur’an. Surabaya :
            Karya Abditama, 1997.



[1] Abu Anwar, Ulumul Qur’an, Jakarta, Amzah, 2002, Cetakan ke 1, Hlm 13
[2] Achmad Zuhdi, Suqiyah Musafa’ah, Abd. Kholid, Abid Rohman, Mufikhatul Khoiroh, Studi Al-Qur’an, Surabaya, UIN SA Press, 2011, Cetakan ke 4
[3] Zainal Abidin, Seluk Beluk Al-Quran, Jakarta, PT. Rineka Cipta, 1992, Cetakan ke 1, Hlm 69
[4] Muhamad Hadi Ma’rifat, Sejarah Al-Quran, Jakarta, Al-Huda, 2007, Cetakan ke 1, Hlm 8-15
[5] Kamaluddin Marzuki, ‘Ulum Al-Quran, Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 1992, Cetakan ke 1, Hlm 10-11
[6] Ibrahim Eldeeb, Be a Living Qur’an, Jakarta, Lentera Hati, 2009, Cetakan ke 1, Hlm 28-30
[7] Shalahuddin Hamid, Study Ulumul Quran, Jakarta, PT. Intimedia CiptaNusantara, Hlm 34
[8] Masjfuk Zuhdi, Pengantar Ulumul Qur’an, Surabaya, Karya Abditama, 1997, Cetakan ke 5, hlm 6
[9] Kadar M. Yusuf, Studi Alquran, Jakarta, Amzah, 2014, Cetakan ke 2, hlm 24
[10] Manna’ Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, Bogor, PT. Pustaka Litera AntarNusa, 2009, Cetakan ke 13, Hlm 34-35
[11] Manna’ Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, Bogor, PT. Pustaka Litera AntarNusa, 2009, Cetakan ke 13, Hlm 38-40
[12] Shalahuddin Hamid, Study Ulumul Quran, Jakarta, PT. Intimedia CiptaNusantara, Hlm 40
[13] Manna’ Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, Bogor, PT. Pustaka Litera AntarNusa, 2009, Cetakan ke 13, Hlm 44-47
[14] Masjfuk Zuhdi, Pengantar Ulumul Qur’an, Surabaya, Karya Abditama, 1997, Cetakan ke 5, hlm 8
[15] M. Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al Qur-an/Tafsir, Jakarta,  PT Bulan Bintang, 1992, Cetakan ke 14, Hlm 19-20




Komentar

  1. Alhamdulillah semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi saya dan bagi semua orang aamiin

    BalasHapus
  2. Sangat bermanfaat dan menambah pengetahuan khususnya bagi kaum muslimin. Semoga dengan berbagi ilmu seperti ini akan menjadi amal jariyah bagi penulis, amiin yra.

    BalasHapus
  3. subhanallah, terima kasih atas ilmu yang sudah diberikan semoga bermanfaat untuk kita semua, aamiin

    BalasHapus
  4. Masyaallah semoga bermanfaat ya dek makalahnya. good job lakukan yang terbaik

    BalasHapus
  5. MasyaAllah semoga ini bisa dipetik ilmunya dan bisa menyebar luass🙏🙏

    BalasHapus
  6. Alhamdulilah, terima kasih atas adanya makalah ini , semoga bisa menambah wawasan bagi saya dan juga yang lain. Dan Insyaallah bermanfaat

    BalasHapus
  7. masyallah makalahnya sangat membantu , banyak pelajaran baru yg saya dapatkan , terima kasih.

    BalasHapus
  8. Semoga pembaca dapat memahami apa yang telah disampaikan. Kalau boleh kasih saran, ada beberapa kata yang masih typo, alangkah baik jika diberi footnote, tulisan arab diketik sendiri agar lebih jelas bagi para pembaca. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Aminnn.

    BalasHapus
  9. Kamu itu seperti kamera. Karena aku selalu tersenyum saat melihatmu:)

    BalasHapus
  10. Bagus. Saya jadi tahu lebih dalam tentang wahyu dan bagaimana cara-nya wahyu tersebut turun kepada Nabi. Terima kasih!!

    BalasHapus
  11. Menambah wawasanku sekali kak, makasih kak, kakkkk makasih makasih kak

    BalasHapus
  12. Alhamdulillah sangat bermanfaat

    BalasHapus
  13. Sangat bermanfaat bagi kaum muslimin dan muslimat agar dapat menambah wawasan.semoga pembaca dapat memahami apa yang disampaikan

    BalasHapus
  14. alhamfulillah sangat bermanfaat bagi para pembaca karena menyuguhkan pembahasan mengenai penurunan wahyu

    BalasHapus
  15. Wow sangat bermanfaat sekali. Semoga dapat digunakan untuk ilmu pengetahuan bagi yg membaca

    BalasHapus
  16. alhamdulillah dapet ilmu baru, semoga bermanfaat makalahnya kak^_^

    BalasHapus
  17. Terima kasih, berkat blog ini tugas saya sangat terbantu. Semoga makalahnya berkah ya :)

    BalasHapus
  18. Makalah ini sangat membantu saya dalam mengerjakan tugas tentang penurunan Wahyu, dan penjelasan nya sangat rinci, terimakasih.

    BalasHapus
  19. Allhamdulillah allhamdulillah allhamdulillah allhamdulillah allhamdulillah allhamdulillah allhamdulillah allhamdulillah
    Jangan lupa bersyukur ya gaeesss. Assallamuallaikum

    BalasHapus
  20. terima kasih, berkat makalah ini saya jadi tau bagaimana proses penurunan wahyu yang mana sebelumnya saya belum bisa membayangkan karena pada jaman dulu jaringan komunikasi bisa dikatakan sangat terbatas

    BalasHapus
  21. Waah terinakasih buat blog ini... bermanfaat sekali, semoga yang menulis blog ini diberikan yang terbaik amin amin amin amin

    BalasHapus
  22. Alhamdulillah, ada yang membuat artikel ini. terimakasih ilmunya sangat bermanfaat. kalau bisa buat bab yang lain juga ya?

    BalasHapus
  23. Terima kasih telah membuat makalh ini sangat rapi dan berguna sekali bagi saya yg belum tahu lebih dalam

    BalasHapus
  24. Alhamdulillah kak menambah wawasan yang belum saya ketahui, lain kali ajari kak ya??

    BalasHapus
  25. Alhamdulillah, makalah ini sangat bermanfaat sekalii, banyak ilmu yang saya dapat disinii, semoga penulis selalu diberi kesehatan, aamiin

    BalasHapus
  26. Masyaallah makalah yg sangat baik dan sangat membantu. Terimakasih kak

    BalasHapus
  27. Alhamdulillah sangat bermanfaat sluuurr

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih banyak yaa slurr, semoga bermanfaat untuk anda agar dapat berjalan di jalan yang benar

      Hapus
  28. Alhamdulillah, dengan adanya makalah ini banyak ilmu yang didapat, makalah ini sangat bermanfaat sekali, semoga penulis selalu diberi kesehatan, aamiin

    BalasHapus
  29. alhamdulillah sangat bermanfaaat bagi sayaa terima kasih banyak semoga kedepannya makin baik aamiin

    BalasHapus
  30. Masyaallah tabarokallah, semoga bermanfaat bagi pembaca dan bernilai ibadah bagi pebulis 🙏

    BalasHapus
  31. alhamdulillah. saya dapat referensi terbaru mengenai wahyu, terimakasih. semoga dapat di amalkan.

    BalasHapus
  32. Alhamdulillah, sangat bermanfaat sekali artikel ini, dan dapat menambah ilmu baruu, semoga kedepanya lebih baik lagi.

    BalasHapus
  33. Alhamdulillah, sangat bermanfaat bagi pembacanya. Semoga dapat kedepannya menjadi lebih baik, aamiinn aamiinn.

    BalasHapus
  34. Alhamdulillah, ilmu baru 😊 sangat bermanfaat.... Singkat padat jelas jadi nggak perlu terlalu lama utk baca dan mengerti isinya.

    BalasHapus
  35. Masyaallah,ini membantu saya untuk menambah wawasan dan pengetahuan saya semoga bermanfaat dan barokah.

    BalasHapus
  36. Alhamdulillah sangat membantu saya

    BalasHapus
  37. Alhamdulillah isi blognya sangat bermanfaat karena sangat mudah dipahami dan membahas tentang penurunan wahyu.

    BalasHapus
  38. Alhamdulillah mempermudah saya dalam mencari referensi tugas

    BalasHapus
  39. alhamdulillah karena makalah ini saya mendapat ilmu baru terima kasih

    BalasHapus
  40. Alhamdulillah, sangat bermanfaat sekali artikel ini terimakasih

    BalasHapus
  41. MasyaAllah ..
    Semoga apa yang kamu usahakan bermanfaat bagi yang lain

    BalasHapus
  42. MasyaAllah ..
    Semoga apa yang kamu usahakan bermanfaat bagi yang lain

    BalasHapus
  43. Alhamdulillah, ilmu yang disampaikan bermanfaat untuk saya & pembaca dalam referensi tugas

    BalasHapus
  44. Alhamdulillah sangat bermanfaat sekali ... Terima kasih ..

    BalasHapus
  45. Assalamualaikum, sangat bermanfaat sekali artikel ini, ilmu yang disampaikan bermanfaat untuk saya & pembaca dalam referensi tugas

    BalasHapus
  46. Masyaallah bermanfaat sekali blognya, semoga bermanfaat bagi pembaca lain

    BalasHapus
  47. Alhamdulillah semoga bermanfaat l

    BalasHapus
  48. Alhamdulillah.. Sangat membantu dan menambah wawasan, semoga bermanfaat untuk pembaca lainnya dan sukses terus buat kakaknya :)

    BalasHapus
  49. Wah Alhamdulillah mantap ini mah. Terima kasih ilmunya

    BalasHapus
  50. Makalah nya sangat membantu, sangat bermanfaat, semoga kedepannya semakin baik lagi

    BalasHapus
  51. Alhamdulllah sangat bermanfaat dan sangat membantu dengan adanya makalah ini bisa menambah wawasan baru

    BalasHapus
  52. Masyaallah, terimakasih kak telah berbagi ilmu. Semoga menjadi manfaat bagi sesama

    BalasHapus
    Balasan
    1. waduh ketemu ukhti disini, masyaAllah ukh ana juga senang baca diblog ini. Bermanfaat semuaa

      Hapus
  53. terima kasih, semoga ilmu yang sudah di bagikan dapat bermanfaat untuk kita semua

    BalasHapus
  54. Terima kasih atas ilmu yang kamu tulis sangat menambah wawasan islam

    BalasHapus
  55. terimakasih , semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi kita semua, aminn

    BalasHapus
  56. Terima kasih, menambah ilmu baru dan semoga bermanfaat ilmunya bagi yang lainnya juga

    BalasHapus
  57. Dijelasin gak sih disitu. Ketika Allah menurunkan Wahyu ke langit/lauhil Mahfudz (?) Itu berupa apa????

    BalasHapus
    Balasan
    1. maaf mbak, tapi itu bukan termasuk dari pembahasan soalnya sub bab nya cara cara turunnya wahyu kepada malaikat dan rasul, maaf jika saya salah

      Hapus
  58. MasyaAllah sangat bermanfaat sekali terimakasih

    BalasHapus
  59. BERMANFAAATTT SEKALIII... SEMANGAAT YAAAA🥰

    BalasHapus
  60. Cukup lengkap, bagus buat nambah pengetahuan. Good job

    BalasHapus
  61. جيد جدا ... نأمل أن تنتج أعمالا كتابية جيدة وصحيحة. انتظار الورقة التالية ...

    BalasHapus
  62. Semoga Ilmunya bermanfaat bagi pembaca dan mengalirkan pahala bagi penulis :)

    BalasHapus
  63. Alhamdulillah ilmunya semoga bermanfaat bagi yang lainnya untuk pembelajaran kita

    BalasHapus
  64. آمل أن يكون المقال مفيدًا ، وآمل أن يكون أولئك الذين يقرأون قد حصلوا على المعرفة ، قد وصلوا إلى المقالة المثالية

    BalasHapus
  65. terima kasih telah membuat blog yang sangat bermanfaat, semoga kedepannya akan lebih baik lagi

    BalasHapus
  66. Sangat bermanfaat bagi pembaca, ditunggu karya selanjutnya, sukses selalu kak

    BalasHapus
  67. Masyaallah, Alhamdulillah makasih kak telah menuliskan artikel ini, aku jadi ngerti wahyunya Al Qur'an. Sehat selalu kak.

    BalasHapus
  68. Sangat membantu, terima kasih kak sudah menyebarkan ilmu yang bermanfaat seperti ini. sukses slalu

    BalasHapus
  69. MasyaAllah bermanfaat sekali ukh untuk otak saya yang masih kosong ini, terimakasih ilmunyaa

    BalasHapus
  70. Alhamdulillah sukak banget sama isi blognya, bermanfaat makasih ya kak, semoga kedepannya makin berkembang lagi dan bisa bermanfaat buat orang lain bagus isinya :)

    BalasHapus
  71. Masyaallah, tulisan yang sangat bermanfaat. terimakasih sudah berbagi ilmunya, semoga terus membuat hal-hal yang bermanfaat bagi banyak orang

    BalasHapus
  72. wahh sangat membantu sekali ...

    BalasHapus
  73. Semoga ilmunya manfaat, dan membawa berkah bagi pembaca maupun penulis

    BalasHapus
  74. Terima kasih ilmunya sangat membantu

    BalasHapus
  75. Bermanfaat sekali isi blog nya, semoga membawa berkah pembaca dan penulis.

    BalasHapus
  76. terima kasih, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua

    BalasHapus

Posting Komentar